Aku cemburu pada orang-orang yang cukup berkata, “Aku rindu.”
Sedangkan aku, masih sibuk mencari cara agar rasa yang sama terdengar seindah setengah fase bulan tanpa kehadiranmu.
Barangkali karena itulah aku memilih meminjam bulan, ketimbang mengucapkan satu kata yang terdengar begitu sederhana.
Sebab baru kusadari, ada sesuatu yang perlahan hilang dari riuh hariku.
Kau selalu membuka setiap pertemuan dengan senyum yang paling manis, binar mata yang paling cerah, serta keteduhan yang terbingkai dalam kerudung Rabbani yang kerap kau kenakan.
Barangkali karena semuanya selalu tampak sama, aku tak pernah menyadari bahwa kehadiranmu telah menjelma menjadi sebuah kebiasaan.
Lalu denting genta mengiringi kepulanganmu, membawamu ke tempat yang lebih mengenalmu.
Ah, setengah fase bulan lagi tanpa kehadiranmu. Namun rasanya kini tak menjadi soal.
Sebab ada beberapa perjumpaan yang memang layak diperjuangkan, meski kita belum tahu apakah kelak akan searah, atau sekadar saling melintas.
✦ ✦ ✦
Di Balik Larik
Setiap puisi selalu menyimpan cerita yang tak ikut tertulis.
Frasa “setengah fase bulan” datang lebih dulu, bahkan sebelum keseluruhan puisi menemukan bentuknya.
Genta kupilih karena setiap kali berdiri di peron, dentingnya selalu terdengar seperti awal sebuah perjalanan.
Sedangkan kerudung rabbani bukan sekadar pakaian dalam puisi ini. Yang menarik perhatianku justru kesederhanaannya, namun menghadirkan keteduhan yang sulit kujelaskan dengan kata lain.
Mungkin memang begitu caraku menulis. Aku tidak mencari metafora. Aku hanya berusaha jujur pada hal-hal kecil yang kutemui, lalu membiarkan mereka menemukan tempatnya sendiri di dalam puisi.