Setengah Fase Bulan

Ada rindu yang tidak mampu diucapkan dengan dua kata. Maka ia meminjam bulan untuk menemukan bahasanya.
setengah fase bulan

Aku cemburu pada orang-orang yang cukup berkata, “Aku rindu.”

Sedangkan aku, masih sibuk mencari cara agar rasa yang sama terdengar seindah setengah fase bulan tanpa kehadiranmu.

Barangkali karena itulah aku memilih meminjam bulan, ketimbang mengucapkan satu kata yang terdengar begitu sederhana.

Sebab baru kusadari, ada sesuatu yang perlahan hilang dari riuh hariku.

Kau selalu membuka setiap pertemuan dengan senyum yang paling manis, binar mata yang paling cerah, serta keteduhan yang terbingkai dalam kerudung Rabbani yang kerap kau kenakan.

Barangkali karena semuanya selalu tampak sama, aku tak pernah menyadari bahwa kehadiranmu telah menjelma menjadi sebuah kebiasaan.

Lalu denting genta mengiringi kepulanganmu, membawamu ke tempat yang lebih mengenalmu.

Ah, setengah fase bulan lagi tanpa kehadiranmu. Namun rasanya kini tak menjadi soal.

Sebab ada beberapa perjumpaan yang memang layak diperjuangkan, meski kita belum tahu apakah kelak akan searah, atau sekadar saling melintas.

✦ ✦ ✦

Di Balik Larik

Setiap puisi selalu menyimpan cerita yang tak ikut tertulis.

Frasa “setengah fase bulan” datang lebih dulu, bahkan sebelum keseluruhan puisi menemukan bentuknya.

Genta kupilih karena setiap kali berdiri di peron, dentingnya selalu terdengar seperti awal sebuah perjalanan.

Sedangkan kerudung rabbani bukan sekadar pakaian dalam puisi ini. Yang menarik perhatianku justru kesederhanaannya, namun menghadirkan keteduhan yang sulit kujelaskan dengan kata lain.

Mungkin memang begitu caraku menulis. Aku tidak mencari metafora. Aku hanya berusaha jujur pada hal-hal kecil yang kutemui, lalu membiarkan mereka menemukan tempatnya sendiri di dalam puisi.

Bagikan:

Jika tulisan ini terasa dekat

Jika kamu ingin melanjutkannya, aku mengirim cerita lain lewat email.

Your subscription could not be saved. Please try again.
Terima kasih. Silakan cek email untuk melanjutkan.

Tanpa bising, tanpa tekanan. Kamu bisa berhenti kapan saja.

Jalan berkabut sebagai simbol langkah yang dijalani tanpa kepastian
Awal sering terlihat ringan, seolah memberi izin untuk berharap lagi. Namun di baliknya, ada beban dan ongkos yang jarang kita hitung saat melangkah.
Perempuan berjalan di padang rumput pada pagi hari dengan cahaya matahari hangat, melambangkan proses mencintai diri secara perlahan.
Kisah seorang ibu ber-outfit warna-warni yang tetap percaya diri meski dipandang berbeda. Sebuah pelajaran hangat tentang keberanian menjadi diri sendiri.
sisa-sisa-yang-pernah-berarti
Kadang hidup meremas kita sampai kusut—lelah, lusuh, dan terasa tidak diterima. Tapi seperti uang kusut yang tetap bernilai, diri kita pun bisa kembali bernapas di tangan yang tepat. Artikel ini mengajakmu melihat bahwa kekusutan bukan akhir, melainkan tanda perjalanan.
Harapan baru
Perjalanan memahami diri bukan hanya tentang melangkah maju, tetapi juga berani menatap luka lama yang selama ini kita simpan diam-diam. Dalam hening, kita belajar bahwa menerima tidak selalu berarti menyerah.
Perjalanan tanpa ujung
Perjalanan memahami diri bukan sesuatu yang selesai dalam satu langkah. Dalam sunyi, kita belajar melihat ke dalam dan menemukan arah yang sering tersembunyi.