Pagi selalu datang dengan caranya sendiri. Ada hari-hari ketika cahaya matahari terasa biasa saja, dan ada hari-hari ketika ia seperti menyalakan sesuatu yang lain. Hari itu, aku sedang membuka toko seperti biasa—meletakkan roti di tempatnya, mengisi ulang minuman ke dalam lemari pendingin, dan merapikan deretan bekal yang nanti dipilih dengan tangan-tangan kecil yang masih mengantuk.
Dan dari kejauhan, terdengarlah suara mesin kecil yang akrab: scooter kuning itu.
Mobilitas sederhana yang setiap pagi menyuntikkan sedikit warna ke jalanan yang masih abu-abu.
Ibu dengan Warna yang Menyalakan Pagi
Ia turun dari scooter dengan langkah ringan. Jaket ungunya memantulkan cahaya, tas selempang merah muda bergoyang pelan, celana hijau bergaris putih membuatnya tampak seperti seseorang yang memutuskan bahwa hidup terlalu pendek untuk hanya memilih satu palet.
Kacamata warna-warni bertengger di wajahnya, dan kedua putrinya pun tampak seperti versi mini dirinya yang ceria, polos, penuh warna, seolah-olah dunia adalah halaman kosong yang siap dicoret krayon.
Ia masuk ke toko dengan senyum yang sama setiap hari, senyum yang entah kenapa selalu membuatku merasa pagi sedang berjalan dengan baik.
Tatapan yang Mengiris Sunyi
Tapi hari itu ada sesuatu yang berbeda.
Di depan toko, sekelompok anak sekolah menagah pertama sedang menunggu teman mereka. Ketika ibu ini lewat, senyum mereka berubah menjadi bisik-bisik kecil. Tatapan “lho kok” itu terasa jelas, bahkan dari tempatku berdiri. Ada nada sinis yang sulit disembunyikan—campuran keheranan dan penghakiman yang sering muncul ketika seseorang terlalu berani jadi diri sendiri.
Aku tidak tahu apakah ibu itu menyadarinya, atau pura-pura tidak peduli. Tapi ia tetap berjalan. Tetap cerah. Tetap membawa warna seperti biasa.
Dan justru itu yang menempel lama di pikiranku.
Warna Sebagai Cara Mencintai Diri
Dalam hidup yang sering kali memaksa kita merendahkan volume diri, ia justru menaikkan warnanya. Mungkin baginya, warna bukan sekadar estetika. Mungkin itu cara ia bertahan. Cara ia menjaga agar dirinya tetap hidup, tetap utuh, tetap ia.
Ada orang yang menemukan ketenangan lewat pakaian netral. Ada juga yang menemukan keberanian lewat warna-warna cerah. Dan tidak ada jawaban yang lebih benar daripada yang lain.
Yang sering kita lupa adalah: percaya diri tak selalu lahir dari hal besar—kadang dari pilihan kecil seperti apa yang ingin kita kenakan hari itu.
Tekanan Tak Terlihat untuk Menyesuaikan Diri
Kita hidup di masyarakat yang diam-diam punya aturan berpakaian: jangan terlalu mencolok, jangan terlalu berbeda, jangan terlalu terlihat.
Padahal, justru ketakutan untuk terlihat itulah yang sering membuat kita mengecilkan diri.
Berapa banyak dari kita yang memilih warna aman, bukan karena suka, tapi karena takut dinilai?
Berapa banyak yang ingin tampil beda, tapi akhirnya tidak jadi, hanya karena suara kecil: “nanti orang-orang ngomong apa?”
Dan hari itu aku belajar bahwa terkadang, yang membuat seseorang terlihat “aneh” bukanlah pakaiannya—tapi keberaniannya untuk tak sembunyi.
Keberanian Kecil Seorang Ibu
Ibu itu tidak berpidato tentang self-love. Ia tidak membagikan quote motivasi. Ia hanya datang membeli bekal dua putrinya, sambil membawa seluruh dirinya ke ruang publik tanpa minta maaf.
Dan mungkin itu sudah cukup untuk disebut keberanian.
Tidak semua perjuangan membutuhkan panggung.
Kadang, perjuangan adalah hal sederhana seperti memilih jaket ungu dan tetap memakainya, meski orang lain akan melihat dua kali.
Kadang, percaya diri tumbuh dari keputusan kecil yang diulang-ulang setiap hari.
Pelajaran dari Pagi yang Biasa-biasa Saja
Melihatnya, aku jadi berpikir: mungkin kita semua punya “warna” yang ingin kita pakai—bukan sekadar pada pakaian, tapi pada pilihan hidup kita.
Warna itu bisa berupa hobi yang kita pendam, gaya bicara yang kita tahan, mimpi yang kita tahan karena takut terlihat berlebihan.
Dan manusia seperti ibu itu mengingatkan kita bahwa menjadi diri sendiri memang ada harganya. Tapi sering kali, itu harga yang layak dibayar.
Penutup: Mengizinkan Diri untuk Berwarna
Pagi itu pada akhirnya berjalan seperti biasa, tapi rasanya ada sesuatu yang berubah dalam caraku melihat keberanian.
Barangkali, dunia memang butuh lebih banyak orang yang berani memakai “warna”-nya sendiri—apa pun bentuknya.
Dan barangkali kita semua perlu bertanya pada diri sendiri:
kapan terakhir kali kita mengizinkan diri untuk berwarna?