Di Balik Pendar
Ini bukan perjalanan besar. Hanya langkah kecil yang akhirnya berani aku akui: bahwa diam pun punya cerita.
Aku tidak pernah benar-benar berniat menjadi seseorang yang ‘tampil’.
Aku hanya mencoba memahami gelombang kecil di dalam diri—
yang selama ini sunyi, tapi ternyata ingin didengar sedikit saja.
Blog ini lahir dari sana: dari ruang yang selama ini kusembunyikan,
dan akhirnya kubiarkan berpendar.
Ada bagian dari diriku yang selalu kembali pada sunyi—bukan karena aku ingin menjauh dari dunia, tetapi karena di sanalah segala sesuatu terasa lebih jujur. Dalam hening, semua hal yang biasanya kutahan muncul ke permukaan: kegelisahan, luka yang tak dinamai, dan kerinduan yang tak pernah selesai.
Aku menulis Pendar Kesunyian bukan untuk terlihat kuat atau bijak. Aku menulis karena aku butuh ruang untuk bernapas. Ruang untuk menumpahkan pikiran yang terlalu berat jika disimpan, dan terlalu rapuh jika diucapkan langsung.
Di sini, aku tidak mencoba memberi nasihat. Yang kutawarkan hanya kejujuran yang kadang lembut, kadang berantakan, kadang juga tak masuk akal. Tulisan-tulisan ini lahir dari malam-malam ketika pikiranku terlalu penuh atau terlalu hampa untuk dibungkam.
Pendar Kesunyian adalah tempatku meniti retakan-retakan kecil itu.
Tempat aku belajar bahwa rasa takut tidak selalu harus diusir, dan bahwa keberanian tidak selalu terlihat heroik. Terkadang, keberanian hanyalah duduk diam bersama diri sendiri tanpa lari.
Aku tidak tahu apakah tulisan-tulisanku akan menemukanmu pada waktu yang tepat. Tapi, jika kamu membaca ini dan merasa ada sesuatu yang terasa dekat, mungkin karena kita sama-sama sedang mencoba memahami diri, dengan cara yang paling sederhana: menghadapi keheningan dan apa pun yang muncul darinya.
— Muhammad Rhega
Terima kasih sudah menemukan ruang kecil ini.
Jika kamu ingin berjalan bersama,
aku membuka pintu perlahan.
Selamat meniti pendar sunyi,
dengan ritmemu sendiri.
Aku membagikan cerita lewat email
Tak sering, hanya ketika ada sesuatu yang ingin kubagi.
Kamu bebas berhenti kapan saja.